Jika Anda tidak Siap Berevolusi…

Anda akan dipaksa berevolusi!

Artikel ditulis oleh :

Danie
Danie
Co-founder dari ActiveFunnel.id. Berawal sebagai marketer rudyngacademy.com, kini Active Funnel melayani marketing untuk coach, trainer, hingga entrepreneur. Saya sangat menyukai menulis dan fotografi terutama street photography.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin

Table of Contents

Walaupun saat ini istilah Digital Marketing sudah sangat umum didengar, namun ternyata, bukan hanya marketing saja yang sudah go digital atau digitalisasi. Sadar atau tidak sadar, kehidupan kita pun sudah mulai beralih dari tradisional menuju digital, mulai dari,

  1. Belanja digital atau istilah umumnya belanja online
  2. Pembayaran digital seperti OVO, Shopeepay, GoPay, Jenius Pay, dll
  3. Pesan makanan dan minuman melalui platform digital seperti Go-Food dan Grab-Food
  4. Bahkan sampai belajar pun saat ini melalui platform digital (Contoh : Zoom dan LMS/Learning Management System) yang bukan hanya dilakukan oleh sekolah, namun juga dilakukan untuk seminar dan workshop

Hal-hal yang dilakukan secara offline seperti belanja di toko fisik, bertransaksi dengan uang fisik (kertas dan logam), makan di tempat, dan bersekolah di sekolah atau pertemuan-pertemuan seminar dan workshop perlahan-lahan mulai dilupakan dan beralih ke arah digital.

Hal ini didukung pula dengan adanya Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama 1 tahun (di Indonesia) yang memaksa semua orang untuk go digital atau terpaksa mati. Banyak pedagang/pebisnis yang juga terpaksa harus membiasakan diri untuk berdagang dan berbisnis di dunia digital atau bisnis mereka terpaksa harus tutup karena sudah hampir jarang customer yang bertransaksi melalui platform offline atau secara tradisional.

Bukan hanya berdampak kepada pedagang/pebisnis, digitalisasi juga berdampak kepada jutaan (bahkan milyaran) banyaknya pengurangan tenaga kerja yang digantikan dengan mesin/robot. Maka dari itu, para tenaga kerja, bahkan para pedagang dan pebisnis pun dituntut bukan hanya mampu untuk bekerja dan berbisnis namun juga mampu untuk berpikir out of the box untuk dapat bertahan di dunia yang serba digital ini. Digitalisasi inilah yang disebut dengan revolusi industri 4.0.

Revolusi Industri 4.0 pertama kali dicetuskan oleh sekelompok perwakilan ahli berbagai bidang asal Jerman pada tahun 2011 dalam acara Hannover Trade Fair, Hannover, Jerman. Mereka memaparkan bahwa Industri saat ini memasuki inovasi baru dimana proses produksi berubah pesat dan menerapkan konsep otomatisasi yang dilakukan mesin yang tidak memerlukan tenaga manusia dalam pengaplikasiannya. Hal ini sangat dibutuhkan oleh para pelaku bisnis dan Industri demi efisiensi waktu, tenaga kerja, dan biaya. Penerapan Industri 4.0 di pabrik-pabrik dikenal juga dengan sebutan Smart Factory dimana proses pembukuan dan produksi dapat termotorisasi dimanapun dan kapanpun  selama terhubung dengan Internet atau sering disebut dengan Internet of Thing (IoT).

Jika kita melihat Revolusi Industri 3.0 dimana merupakan awal era digital revolution yang memadukan inovasi di bidang elektronik dan teknologi informasi, ada perdebatan apakah Industri 4.0 cocok untuk disebut sebagai Revolusi Industri atau hanya pengembangan dari revolusi 3.0. Namun ternyata Revolusi Industri 3.0 ke Revolusi Industri 4.0 mengalami perubahan yang sangat signifikan. Hal baru yang sebelumnya belum pernah ada di era Industri 3.0, mulai ditemukan. Para ahli meyakini era Industri 4.0 merupakan revolusi karena ada inovasi baru seperti Internet of Thing (IoT), Big Data, Cloud Computing, Artificial Intelligence (A.I), dan mesin pintar.

1. Internet of Thing

Kemampuan menyambungkan dan memudahkan proses komunikasi antara mesin, perangkat, sensor, dan manusia melalui jaringan internet.

Contoh, Jika di Industri 3.0 kita hanya bisa mentransfer uang melalui ATM dan teller Bank, di era Industri 4.0 kita bisa mentransfer uang dimanapun dan kapanpun selama terhubung dengan internet.

2. Big Data

Big Data adalah seluruh informasi yang tersimpan di Cloud Computing. Analisa Big Data dan Cloud Computing akan membantu deteksi dini cacat dan kegagalan produksi sehingga memungkinkan pencegahan dan peningkatan produktivitas dan kualitas suatu produk berdasarkan data yang terekam.

Contoh penyedia layanan Big Data di Indonesia adalah Sonar Platform dan Warung Data.

3. Artificial Intelligence

Artificial Intelligence atau sering disebut sebagai A.I adalah teknologi mesin dan komputer yang memiliki tingkat kecerdasan sama seperti manusia.

Contoh penggunaan A.I di Indonesia adalah aplikadi Qlue untuk Smart City yang menggunakan teknologi Face Recognition.

Indonesia pun saat ini sudah mulai menggarap konsep Revolusi Industri 4.0 secara serius. Salah satu strateginya adalah dimana Kementerian Perindustrian, Airlangga Hartanto membuat sebuah roadmap berjudul Making Indonesia 4.0. Bagaimana tanggapan Anda mengenai Revolusi Industri 4.0? Sudahkah Anda siap menghadapi Revolusi ini?

Bagikan jika Anda rasa artikel ini bermanfaat...

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin